Kaltim pacu populasi sapi potong

SAMARINDA: Provinsi Kalimantan Timur bertekad menambah populasi sapi potong sebanyak mungkin untuk memenuhi kebutuhan lokal yang masih amat bergantung kepada pasokan daerah lain, terutama Jawa, Sulawesi, Bali, dan Nusa Tenggara. Dalam kaitan itu, Pemerintah Kaltim memberikan bantuan bagi petani ternak untuk memelihara sapi lewat sistem gaduh.

Sapi potongDi samping itu, diupayakan penggemukan sapi untuk mempercepat penambahan populasi dan ketersediaan sapi potong untuk konsumsi lokal. Gubernur Awang Faroek Ishak mengatakan pihaknya juga berharap suatu saat bisa mengekspor sapi ke negara tetangga, seperti Malaysia dan Brunei Darussalam.

Dia menuturkan para pemangku kepentingan perlu memperbanyak jumlah rumah potong. “Jika memungkinkan kita mengekspor ke Malaysia dan Brunai. Seiring dengan bertambahnya populasi juga dibangun rumah potong yang bersih, sehat, dan halal,” kata Awang saat pencanangan Gerakan Pelayanan Terpadu Peternakan, kemarin.

Kegiatan ekspor dipastikan dapat berdampak positif bagi daerah itu berupa perluasan pasar dan penambahan devisa. Gubernur menjelaskan saat ini populasi ternak sapi di Kaltim baru mencapai 94.000 ekor. Padahal, kata dia, jika melihat potensi luas lahan, setidaknya mampu menampung hingga lima juta sapi.

Melihat kondisi itu, Awang mengatakan peluang membuka peternakan sapi baru di Kaltim sangat terbuka. Dia mengatakan jika perluasan peternakan sapi bisa dipercepat, ketergantungan atas sapi luar bertahap dapat ditekan.

Sistem gaduh

Kepala Dinas Peternakan Kaltim Ibrahim mengatakan upaya untuk mendorong masyarakat beternak sapi terus dilakukan. Salah satunya dengan memprogramkan bantuan benih dengan sistem gaduh. Sistem gaduh itu meliputi bantuan benih sapi, di mana untuk tiap satu bantuan, petani mengembalikan seekor anak sapi yang dihasilkan atau biasa disebut satu banding satu.

Selain itu, kata dia, pemerintah juga membantu mengembangkan kegiatan penggemukan sapi untuk memenuhi kebutuhan daging Kaltim. Keuntungan penjualan sapi dibagi 30% untuk pemerintah dan 70% peternak.

“Sistem gaduh mengembalikan dalam bentuk anak sapi, sedangkan untuk penggemukan adalah membagi selisih keuntungan harga jual pada saat pertama diberikan pada petani dan sesudah dipelihara yang rata-rata dua tahun,” ujarnya.

Menurut Ibrahim, pemerintah berencana membagikan seti-daknya 6.000 sapi untuk 14 kabupaten/kota dan provinsi lewat program sistem gaduh dan penggemukan sapi.

Potensial

Secara umum, Pulau Kalimantan merupakan kawasan potensial untuk pengembangan sapi potong bagi Indonesia. Berdasarkan Statistik Peternakan 2008, pulau terluas ketiga di dunia ini memiliki populasi sapi mencapai 522.381 ekor.

Provinsi Kalsel tercatat mempunyai rerata jumlah sapi per tahun terbanyak, disusul Kaltim, Kalteng, dan Kalbar. Jumlah sapi di Kalimantan tahun lalu setara dengan 4,4% total populasi sapi potong di Indonesia atau kurang seperlima populasi ternak sejenis di Jawa Timur.

Menurut rilis Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian pada awal Maret lalu, Kalimantan dinyatakan pulau yang telah bebas dari penyakit Brucellosis sehingga sapi produksi wilayah itu aman dikonsumsi.

Bisnis mencatat Pemprov Kaltim pernah menargetkan bahwa pada tahun 2010 daerah itu sudah mampu swasembada daging sehingga tak perlu lagi mengimpor sapi potong dari daerah lain.